SEPATAH KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah yang telah memberikan segalanya hingga dapat terselesaikannya blog yang ada di tangan Anda ini.  Shalawat dan salam semoga selalu dianugerahkan Allah pada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selamat dan sejahtera untuk segenap nabi dan rasul Allah. Selamat, berkah, dan rahmat Allah semoga tetap terlimpah bagi kita semua.

Selamat berjumpa dan berkenalan dengan  kami di blog SEMUA ANAK PANDAI MATEMATIKA yang sederhana ini.  Blog ini dibuat sehubungan dengan masih banyaknya anak – anak yang tidak paham matematika padahal mereka adalah anak – anak normal yang sehat jasmani dan rohaninya. Kalau mereka itu memang belum pernah belajar matematika ya memang begitulah seharusnya — mereka tidak paham matematika.  Tapi anak – anak yang tidak paham matematika dalam kasus ini adalah anak – anak yang  di sekolah sudah diberi pelajaran matematika, orang tua mereka sudah ikut mengajarinya, sudah ada pelajaran tambahan dari gurudi sekolahnya, malahan juga sudah dileskan di BIMBEL yang ternama. Apakah mereka memang sudah tercetak bodoh dari sananya? Kemungkinan besarnya adalah tidak. Anak yang normal dan sehat jasmani dan rohaninya pasti dapat memahami matematika dengan baik.

Mari kita amati dan kita pikirkan. Biasanya orang bodoh matematika itu sudah bodoh sejak dari kecilnya. Maksudnya, jika ada orang yang bodoh matematika, jika dilihat flashback jauh ke belakang pasti akan dapat diketahui bahwa memang sejak kecil dia sudah bodoh matematika. Ini bukan berarti bahwa memang orang yang bodoh  matematika itu  sudah tercetak  menjadi orang yang bodoh matematika sejak dari kecilnya tapi kebodohan itu karena di masa kecilnya dia tidak memahami pelajaran awal yang diajarkan kepadanya  sehingga pelajaran lanjutanpun tidak dipahaminya karena dasar untuk memahami pelajaran lanjutan adalah pelajaran awal yang tidak dipahaminya.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa seorang anak sampai tidak dapat memahami pelajaran awal yang diajarkan pada mereka sehingga tetap bodoh seterusnya?  Yang menjadi penyebab seorang anak sampai tidak dapat memahami pelajaran awal yang diajarkan pada mereka adalah karena terjadi kekeliruan cara dia belajar atau kekeliruan cara kita mengajarkan pelajarannya.  Jika tidak boleh disebut dengan kekeliruan cara mengajarkan,  sebut saja dengan ketidak-cocokan cara kita mengajar dengan gaya belajar atau selera mereka.

Kekeliruan atau ketidakcocokan ini bisa terletak pada cara kita menjelaskan materinya atau pada cara kita menarik minat atau menarik perhatian mereka untuk belajar — atau malah kedua – duanya.

Dalam blog ini, dua masalah tadi akan kita bahas. Pembahasan pertamakali akan berfokus pada pembenahan cara kita memberi pemahaman  dasar-dasar matematika pada anak  dan yang  pertamakali  diulas adalah cara memberi pemahaman tentang BILANGAN  karena BILANGAN adalah materi awal dalam matematika yang menjadi dasar untuk memahami materi selanjutnya. Anak yang tidak memahami bilangan dengan baik tidak akan dapat memahami matema-tika dengan baik. Pemahaman dasar – dasar matematika lanjutannya seperti PENAMBAHAN, PENGURANGAN, PERKALIAN, DAN PEMBA-GIAN sangat tergantung pada pemahaman pada bilangan — terutama adalah pemahaman nilai angka pada suatu tempat angka pada suatu bilangan.

Tapi apakah sesederhana itu masalahnya? Apakah orang yang tidak paham matematika itu hanya karena dia tidak paham bilangan? Pada mulanya memang iya. Tapi dalam perjalanan hidup memang sangat banyak masalah yang dihadapi.  Jadi, untuk tetap menjadi orang yang pandai apalagi sukses tentu saja tidak cukup hanya dengan memahami matematika apalagi hanya dengan memahami nilai bilangan saja. Yang jelas dapat dipastikan bahwa anak yang tidak memahami bilangan pasti tidak akan paham matematika dengan baik. Dan orang yang tidak pandai matematika biasanya akan merasa rendah diri sehingga sering kalah bersaing, jarang menjadi pilihan karena dianggap tidak pandai secara keluruhannya — padahal belum tentu orang yang tidak pandai matematika itu pasti tidak pandai secara keseluruhannya.

Berdasarkan penjelasan tadi, sepertinya kami mengatakan bahwa semua anak pasti pandai matematika — seperti semboyan yang kami pakai  untuk menamai buku kami ini. Nah, pasti timbul pertanyaan: Kalau semua anak pandai matematika, lalu mengapa ada orang yang tampak sangat pandai dalam bermatematika ria dan ada orang yang biasa – biasa saja bahkan bodoh? Memang diakui, ada orang yang tampak sangat cerdas dan ada orang yang sepertinya biasa – biasa saja bahkan bodoh.

Pada umumnya, anak yang normal dan sehat jasmani dan rohaninya pasti dapat memahami matematika. Walaupun tidak dipungkiri bahwa Tuhan memberi  seseorang suatu kelebihan daripada orang lainnya. Inilah yang membuat ada seseorang yang tampak lebih menonjol daripada yang lainnya. Tapi, kelebihan yang ada pada orang lain ini, akan tampak atau terwujud jika diasah oleh orang yang bersangkutan.  Anak yang tidak begitu cerdas tapi tekun dan rajin belajar, gigih memperluas ilmu pengetahuan, apalagi ada dukungan baik materi maupun non materi darilingkungannya, rasanya akan lebih pandai daripada anak yang cerdas tapi malas belajar apalagitak

ada dukungan dari lingkungannya. Are you with me? Apakah anda setuju dengan kami?

Kenyataan yang memprihatinkan adalah, orang akan cenderung untuk membodoh – bodohkan anak yang  tidak memahami matematika. Justru karena dianggap bodoh inilah anak yang sebenarnya tidak bodoh itu malah benar – benar menjadi bodoh.  Jadi, sebagai orang tua,  guru,  atau siapapun, sebaiknya kita jangan membodoh – bodohkan orang lain apalagi anak atau murid kita sendiri.

Cara utama untuk memberi pemahaman tentang  BILANGAN pada anak – anak yang disarankan dalam blog ini adalah   dengan menggunakan gambar – gambar sesuatu yang mereka sukai.  Mengapa dengan gambar?  Karena  gambar   dapat membantu mereka memahami penjelasan kita. Gambar dapat memberikan pengertian atau pemahaman yang sulit bahkan yang mungkin tak dapat dijelaskan dengan kata – kata. Dalam Bahasa Inggris ada pepatah yang mengatakan: A picture worth thousands of meanings, yang maksudnya adalah bahwa sebuah gambar dapat menyampaikan ribuan makna. Lagipula, dengan gambar – gambar yang mereka sukai, mereka akan lebih tertarik dan senang untuk belajar — seolah – olah bermain.

Cara yang disarankan dalam blogini tentu saja bukanlah cara yang paling baik diantara cara – cara yang sudah ada.  Cara yang disarankan disini dimaksudkan sebagai alternatif atau pilihan lain bagi kita seandainya masih ada diantara kita yang kurang cocok dengan cara – cara yang sudah ada. Sebab, kenyataannya,  dengan cara – cara yang sudah ada, masih banyak juga anak yang tidak memahami matematika disamping memang tidak dipungkiri bahwa pada kenyataannya memang cara – cara yang sudah ada telah mencetak orang – orang pandai  yang bermanfaat di dunia. Yang perlu kita mengerti adalah bahwa karakter tiap orang itu berbeda,jadi,  cara yang cocok bagi seseorang belum tentu cocok bagi orang lain.

Cara yang disarankan dalam blog ini bukan ciptaan atau temuan baru tapi suatu cara yang dapat mendatangkan hasil yang memuaskan yang sudah sering kita pakai — secara sadar atau tidak, yaitu penalaran dengan menampilkan atau membayangkan gambarnya.  Ini adalah cara  yang memang sudah tercetak secara alamiah dalam pikiran kita. Jadi tak ada yang perlu dihafalkan. Sekali dipahami, semoga selamanya tidak akan dilupakan.

Mungkin, dalam belajar tidak ada cara yang baik atau cara yang buruk. Yang ada adalah cara yang cocok bagi sebagian besar orang dan cara yang  hanya cocok bagi sebagian kecil orang saja. Nah, cara yang cocok bagi sebagian besar orang inilah yang biasanya disebut dengan cara yang lebih baik.